Berlomba-lomba Dalam Kebaikan

7 minutes reading
Monday, 9 Jan 2023 13:07 0 965 admin

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله، الحمد لله حق حمده عدد خلقه ورضى نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي ولا رسول بعده

اللهم صل وسلم  وبارك على نبيك ورسولك محمد وعلى آله و أصحابه وكل من نهج بمنهجه إلى يوم الدين

أما بعد، فيا أيها المسلمون أوصيكم ونفسي بتقوى الله حيث قال تعالى في كتابه الكريم

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah hafizhakumullah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, marilah kita jaga iman dan islam kita, keyakinan kita bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Kita tingkatkan iman dan takwa kita dengan menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa yang sebenarnya itulah bekal yang bisa menyampaikan hamba kepada kebahagiaan yang diharapkannya.

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah hafizhakumullah, kesempatan khutbah jum’at ini mengingatkan kepada majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, majelis yang diikuti oleh para sahabat dan salah satunya adalah Ukasyah Ibnu Mihson Al Aslami radhiyallahu ‘anhu. Di dalam majelis itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginformasikan bahwa nanti Allah subhanahu wata’ala akan memasukkan umatnya ke dalam surga sebanyak tujuh puluh ribu orang tanpa dihisab dan tanpa merasakan azab.

Ada tujuh puluh ribu lagi bersama masing-masing tujuh puluh ribu tersebut, dan di samping itu pula Allah subhanahu wata’ala menciduk dengan tangan-Nya sebanyak tiga kali ke dalam neraka dan mengeluarkan umat nabi Muhammad yang ada di dalamnya sehingga banyak sekali yang dikeluarkan tanpa terhingga jumlahnya meskipun sudah merasakan siksa neraka.

Artinya ada 70.000 x 70.000 umatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang masuk surga tanpa dihisab dan tanpa merasakan azab, ditambah dengan tiga kali cidukan Allah subhanahu wata’ala kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang yang berada di neraka sehingga dikeluarkan dari sana meskipun sudah merasakan azab neraka dan jumlahnya sangat banyak tidak terhingga.

Mendengar itu maka Ukasyah Ibnu Mihson Al Aslami segera berdiri dan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

يا رسول الله، ادعو الله أن يجعلنى منه

Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar menjadikanku termasuk dari mereka (70.000 x 70.000 umat nabi yang dimasukkan Allah ke surga tanpa hisab dan azab)” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdo’a

اللهم اجعل عكاشة منه

Ya Allah, jadikanlah Ukasyah termasuk dari mereka (70.000 x 70.000 umat nabi yang dimasukkan Allah ke surga tanpa hisab dan azab)”

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah hafizhakumullah, itulah Ukasyah Ibnu Mihson Al Aslami, sorang yang tidak menyia-nyiakan tidak membiarkan peluang atau kesempatan berlalu begitu saja tanpa memanfaatkannya, kalau bisa ia yang menjadi orang pertama yang memanfaatkannya. Sehingga beliaulah yang mendapatkan do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan doa Rasulullah adalah sebagai jaminan bahwa Ukasyah Ibnu Mihson termasuk dari golongan yang dimasukkan ke surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Setelah Ukasyah ada lagi orang yang meminta kepada Rasulullah sebagaimana permintaan Ukasyah, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan قد سبقك عكاشة “kamu sudah terdahului oleh Ukasyah

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah rahimakumullah, bagi orang-orang yang keinginan untuk masuk surganya tinggi, semangat berlomba-lomba dalam kebaikannya tinggi maka mereka berkeyakinan bahwa kesempatan untuk menjadi bagian dari rombongan tujuh puluh ribu kali tujuh puluh ribu orang itu masih terbuka.

Sebagaimana pernyataan imam Abu Muslim Al Aulani yang mengatakan “Tidakkah sahabat-sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi setelahnya merasa iri, bahwa nanti kami orang-orang yang hidup jauh dari mereka akan mendahului mereka dalam menjadi rombongannya Ukasyah Ibnu Mihson Al Aslami? Rombongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, yang tidak menyia-nyiakannya barang sedetik pun.”

Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah mengumumkan musabaqoh atau perlombaan itu dalam beberapa firman-Nya? Sehingga berlomba-lomba dalam masuk ke surga sebagaimana yang telah diraih oleh Ukasyah itu tidak menjadi sebuah usaha yang sia-sia.

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi” (QS. Ali Imran : 133)

Dengan ayat tersebut dan ayat berikutnya yang berisi tentang bersegera dalam melakukan kebaikan termasuk dengan sabar dan menahan amarah adalah merupakan kesempatan yang sangat nyata yang diberikan kepada kita, bahkan sebagaimana yang dicontohkan oleh Ali Zainal Abidin rahimahullah di mana beliau selalu menjadikan ayat tersebut selalu berada di depannya, sehingga ketika berhadapan dengan perkara yang bisa membuat orang marah maka beliau bisa mengekang amarahnya karena amarahnya tidak berdasarkan atas kebenaran.

Suatu hari pembantu Ali Zainal Abidin yang seorang jariyah (budak perempuan kecil) menuangkan air untuk wudhu untuk beliau ketika akan mengerjakan shalat tahajud, entah karena mengantuk atau bagaimana wadah air wudhu yang terbuat dari besi itu terjatuh dan mengenai wajah Ali Zainal Abidin dan melukainya. Maka beliau mengangkat kepalanya kepada jariyahnya dan memberikan kembali wadah air wudhu kepada jariyahnya, lalu jariyahnya itu berkata:

وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ

dan orang-orang yang menahan amarahnya” (QS. Ali Imran : 134)

Seketika itu beliau rahimahullah berkata: “Ya, engkau mengingatkanku bahwa penghuni surga salah satunya adalah yang senantiasa menahan amarahnyaamarahnya, hari ini aku tidak jadi marah kepadamu.” Kemudian si jariyah melanjutkan ayat tersebut

وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ

dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain” (QS. Ali Imran : 134)

Zainal Abidin lalu berkata: “Ya, hari ini kesalahanmu telah aku maafkan.” Bahkan ayat itu lalu ditutup oleh si jariyah

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 134)

Mendengar ayat itu lalu Ali Zainal Abidin pun memerdekakannya, seorang pembantu yang melukainya dan mengingatkannya dengan ayat Allah ia maafkan bahkan ia merdekakan.

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah hafizhakumullah, itulah orang-orang yang selalu berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam melakukan amal kebaikan apapun bentuknya. Maka sebagai orang-orang yang beriman, yang meyakini bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya maka sebaiknya kita segera melecut diri kita untuk menjadi orang yang termasuk rombongannya Ukasyah Ibnu Mihson Al Aslami radhiyallahu ‘anhu.

Bukankah shaf pertama dalam shalat berjamaah juga baik dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan kepada kita untuk berlomba-lomba dalam mendapatkannya? Membaca Al Quran adalah kebaikan dalam setiap hurufnya dan Rasulullah melecut umatnya untuk melakukannya dengan sabdanya: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya kedudukanmu dihadapan Allah subhanahu wata’ala nanti sesuai akhir ayat yang telah kamu baca.”

Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu juga termasuk dalam rombongannya Ukasyah, sahabat Abu Bakar bahkan tidak diungguli oleh sahabat yang lain. Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat:

Adakah pagi ini yang sudah menjenguk orang yang sakit?

Abu Bakar menjawab: “Aku wahai Rasulullah”

Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah pagi ini yang telah bersedekah dengan hartanya?

Abu Bakar kembali menjawab: “Aku wahai Rasulullah”

Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah pagi ini yang telah mengikuti dan mengantar jenazah saudaranya?

Abu Bakar kembali menjawab: “Aku wahai Rasulullah”

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah hafizhakumullah, itulah orang-orang yang senantiasa mengikuti perlombaan dalam kebaikan yang diadakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tidak ada pilihan lain bagi kita sebagai orang yang beriman kecuali ikut menjadi peserta rombongannya Ukasyah Ibnu Mihson Al Aslami radhiyallahu ‘anhu, rombongan yang senantiasa berlomba dalam kebaikan, rombongan tujuh puluh ribu kali tujuh puluh ribu yang dimasukkan oleh Allah subhanahu wata’ala ke surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Kemudian seandainya kita tidak termasuk dalam rombongannya Ukasyah maka semoga kita termasuk dalam golongan yang يحاسب حسابا يسيرا minimal kita akan dihisab oleh Allah subhanahu wata’ala dengan hisab yang ringan. Yaitu ketika Allah subhanahu wata’ala menghisab seluruh amal kita ketika hidup di dunia ini dan ada kemaksiatan dan dosa yang kita lakukan namun kita tidak membanggakannya, tidak menyebarkannya, kemudian ketika Allah menanyakannya kepada kita, kita akui dan Allah pun memberikan maaf-Nya, menurunkan ampunan-Nya dan menganugerahkan ridho-Nya kepada kita.

بارك الله لي ولكم فى القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم واستغفروه وللمسلمين من كل ذنب، إنه هو الغفور الرحيم

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي ولا رسول بعده

اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم وعلى آل ابراهيم إنك حميد مجيد

أما بعد

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah hafizhakumullah, sekali lagi, pilihan takwa adalah pilihan yang terbaik bagi kita, karena takwa adalah satu-satunya wasilah yang bisa mengantarkan kita untuk mendapatkan kebahagiaan di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

اتقوا الله اتقوا الله اتقوا الله حق تقاته

Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebaik-baik dan sebenar-benar takwa.

Ma’asyiral muslimin sidang jama’ah jum’ah hafizhakumullah, sesungguhnya dunia ini adalah ladang bagi kita untuk beramal, untuk mempersiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya sehingga ketika Allah memanggil kita, mengangkat kita dari dunia ini kita sudah siap dengan membawa bekal yang sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Dan pilihan terbaiknya adalah menjadi salah satu dari orang-orang yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم وعلى آل ابراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على ابراهيم وعلى آل ابراهيم إنك حميد مجيد

لا إله إلا أنت سبحانك إنا كنا من الظالمين

لا  إله إلا أنت سبحانك إنا كنا من الظالمين

لا إله إلا أنت سبحانك إنا كنا من الظالمين

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

ربنا اغفر لنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا

اللهم اجعل خير عمورنا آخره وخير أعمالنا خواتمه وخير أيامنا يوم نلقاك فيه

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وسبحان الله رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

 

Khatib: Ust. Muzaidi

Editor: Adib

 

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories