Agar Liburan Semakin Berkesan

8 minutes reading
Sunday, 30 Jun 2024 22:17 0 411 admin

Oleh al Faqir: Abu Athif -غفر الله له ولوالديه-
Bagi semua kalangan, masa liburan merupakan moment yang dinanti-nanti dan diharapkan. Karena liburan menjadi obat mengatasi kepenatan hati dan pikiran yang dialami selama menjalankan rutinitas dalam jangka waktu yang cukup panjang. Hal serupa juga dirasakan oleh kalangan santri pondok pesanren. Di kalangan santri, masa liburan bukan hanya sekedar pelepas lelah namun juga pelipur rindu untuk bertemu serta bercengkerama dengan kedua orang tua dan sanak saudara.
Dalam pandangan seorang santri masa liburan hakikatnya bagian dari perjalanan waktu yang nantinya juga akan dihisab di sisi Allah ﷻ. Sebagaimana keumuman dari hadit Nabi :

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – ﷺ- قَالَ” لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ ، وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ ؟ ” رواه الترمذي .

Artinya: dari Abdullah bin Mas’ud -semoga Allah meridhoinya, dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “tidak bergeser kedua kaki anak Adam besok pada hari kiamat hingga ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana didapatkan dan dibelanjakan ke mana, serta tentang ilmunya apa yang sudah diamalkan”. [HR. Tirmidzi].
Menimbang bahwa masa liburan merupakan bagian waktu yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ, maka seorang santri haruslah berupaya menjadikan liburannya tidak sia-sia. Lalu bagaimana caranya ? setidaknya ada tiga tips (saran praktis) agar liburan semakin berkesan dan mendapatkan ridho Ar Rahman.
Pertama, liburan adalah masa untuk menata ulang hati dan pikiran. Ibarat sebuah perjalanan, masa liburan adalah seperti berada di rest area. Di situlah kita menghentikan sejenak perjalanan yang ditempuh dalam rangka untuk menyegarkan kembali anggota tubuh yang penat dan Lelah. Bukan hanya terkait dengan kesegaran badan semata, namun juga mengecek kondisi kendaraan yang kita naiki apakah ada yang perlu diperbaiki atau tidak. Hal itu untuk memastikan perjalanan kita aman dan nyaman. Dan hal yang tidak kalah pentingnya saat berada di rest area adalah melihat ulang Kompas, peta dan arah perjalanan yang akan ditempuh, apakah masih mengarah kepada tempat tujuan ataukah justru menjauh darinya.
Setiap santri haruslah menyadari bahwa aktivitas tholabul ‘ilmi adalah perjalanan panjang penuh rintangan yang tujuan akhirnya sungguh menggembirakan yaitu; kemulian di dunia dan akhirat. Di masa liburan inilah waktu yang tepat untuk meninjau ulang apa yang selama ini telah dilakukan dalam proses tholabul ‘ilmi. Pertama yang harus ditinjau ulang adalah hati dan pikiran kita. Sudahkah kita Ikhlas untuk Allah ﷻ dalam tholabul ‘ilmi ataukah belum. Mari kita Simak Kembali nasihat Nabi ﷺ untuk para penuntut ilmu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يَعْنِي رِيحَهَا. (رواه أبو داود، وابن ماجه وأحمد)

Artinya: Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhoinya- berkata: Rasulullah ﷺ telah bersabda: barang siapa yang belajar ilmu yang seharusnya dicari untuk menggapai ridho Allah namun dirinya tidak mempelajarinya melainkan hanya sekedar untuk mendapatkan bagian dunia niscaya dia tidak akan mendapatkan bau wanginya surga di hari kiamat nanti. [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad].
Ikhlas adalah energi utama dalam perjalanan tholabul ‘Ilmi. Tanpanya seorang santri akan gagal berantakan. Bahkan seorang penuntut ilmu akan mendapatkan ancaman berat di akhirat berupa tidak masuk surga -semoga Allah melindungi kita dari itu-. Lalu bagaimana kita bisa mengukur keihklasan kita dalam tholabul ilmi? Sesungguhnya Keikhlasan seseorang dalam tholabul ‘ilmi bisa diukur dengan tingkat kesungguhan dalam proses belajarnya dan pengamalan ilmunya.
Suatu ketika Imam Syafi’i pernah ditanya :

كيف شهوتك للعلم؟ قال: أسمع بالحرف مما لم أسمعه من قبل فتود أعضائي أن لها سمعا تتنعم به مثل ما تنعمت به الأذنان. فقيل له: كيف حرصك عليه؟ قال: حرص الجموع المنوع في بلوغ لذته للمال. قيل: فكيف طلبك له؟ قال: طلب المرأة المضلة ولدها ليس لها غيره”

Artinya: Bagaimana keinginanmu terhadap ilmu? Beliau menjawab: “Aku mendengar satu huruf yang belum pernah aku dengar sebelumnya maka seluruh anggota badanku berharap ingin mendengarnya dan merasakan kenikmatannya sebagaimana kedua telinga menikmatinya”. Lalu bagaimana ketamakanmu terhadap ilmu? Beliau menjawab: “Sebagaimana ketamakan orang yang mengumpulkan dan menjaga kenikmatan hartanya”. Lalu bagaimana pencarianmu terhadap ilmu? Beliau menjawab: “Seperti seorang ibu yang mencari anak semata wayangnya yang hilang”.
Itulah Gambaran kesungguhan Imam Syafi’I dalam belajar menuntut ilmu agama. Kemudian tatkala beliau telah mendapatkan ilmu, maka beliaupun begitu tawadhu’ dalam mengajarkan dan menyebarkannya. Sebagaimana yang terungkap dalam salah satu perkataan beliau:

“وددت أن الخلق تعلموا هذا العلم على أن لا يُنسَب إلي حرف واحد.”

Artinya: “Aku berharap semoga seluruh manusia belajar tentang ilmu ini (Fiqh dan Ushul Fiqh) tanpa harus menisbahkannya kepadaku satu huruf”.
Demikianlah gambaran keikhlasan dalam tholabul ilmi yang terpancar dalam semangat, pengorbanan, pengamalan dan pelayanan terhadap ilmu.
Adapun perkara kedua yang harus kita tinjau ulang juga adalah tindakan dan perbuatan kita. Apakah selama ini perbuatan kita sudah sesuai dengan amalan tholabul ‘ilmi ataukah justru sebaliknya, tidak mencerminkan sikap dan perilaku seorang penuntut ilmu syar’i. Saat berpamitan kepada kedua orang tua untuk pergi ke pondok pesantren berkata ingin belajar ilmu agama, namun kenyataannya adalah bermain-main dan pindah tidur semata. Ataukah keseharian kita di pondok pesantren sesuai dengan apa yang kita ucapkan dalam pamitan.
Di masa liburan inilah seorang santri harus merenung dan berfikir ulang tentang sikap dan perilakunya selama ini. Dengan ungkapan lain melakukan muhasabah diri. Karena setiap amalan akan dimintai pertanggung jawaban dan memiliki konsekuensinya. Bagi yang bersungguh-sungguh untuk merubah diri menuju kepada yang lebih baik niscaya dirinya akan mendapatkan pertolongan dari Allah dalam hal itu. Sebagaimana keumuman dari firman Allah ﷻ :

﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ۝﴾

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. [QS. Al Ankabut: ayat 69]
Namun sebaliknya, jika seorang santri tidak mau muhasabah dan justru berlaku cuek dan tidak peduli, maka di akhirnya adalah penyesalan yang tidak berujung -semoga Allah ﷻ melindungi kita dari hal itu-.
Kedua, liburan bukan untuk menganggur dan bermalas-malasan. Karena malas dan nganggur adalah pintu pembuka seluruh keburukan dan jalan setan menyesatkan hamba beriman. Sebagaimana keumuman dari nasihat Nabi ﷺ untuk kita agar melazimi doa terlindung dari delapan keburukan:

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن، والعجز والكسل، والبخل والجبن، وضلع الدين وغلبة الرجال

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keresahan dan kesedihan hati, kelemahan dan kemalasan, kekikiran dan ketakutan, terlilitnya hutang dan dikuasai orang”. [HR. Bukhari].
Sebagai santri yang sudah terbiasa dengan aktivitas ibadah selama di pondok pesantren sudah semestinya menjaga kebiasaan amalannya di rumah selama liburan. Dengan ungkapan lain menjadikan rumah sebagai pondok pesantren kedua, sebagai upaya menjaga istiqomah. Karena istiqomah adalah bukti kejujuran iman. Sebagaimana nasihat Nabi ﷺ kepada salah seorang sahabat yang bernama Abu ‘Amr Sufyan bin Abdillah Al Tsaqofi: قل آمنت بالله ، ثم استقم (= “Ucapkanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah”) -HR. Muslim-.
Agar liburan sarat makna dan semakin berkesan, seharusnya seorang santri membuat jadwal kegiatan harian agar bisa terjaga dari sifat malas dan kondisi menganggur. Ada banyak manfaat dan Pelajaran berharga dalam pembuatan jadwal kegiatan harian selama liburan, di antaranya adalah:
a. Disiplin. Dengan jadwal harian mendidik pribadi santri untuk disiplin. Sikap disiplin ditunjukkan dengan menghargai waktu, tanggung jawab terhadap kegiatan agar dilaksanakan secara tuntas sesuai waktu dan kondisinya.
b. Komitmen. Jadwal harian mendidik diri untuk menjaga komitmen. Sikap komitmen ini ditunjukkan dengan keterikatan santri dengan jadwal yang sudah direncanakan. Dari sinilah seorang santri di kemudian hari terjaga dari sifat kemunafikan.
c. Professional. jadwal harian mendidik pribadi santri bersikap professional. Sikap ini ditunjukkan dengan keberhasilan santri dalam mengerjakan kegiatan secara tuntas dan sesuai rencana.
Dalam membuat jadwal kegiatan harian selama liburan, sebaiknya menentukan target-target yang hendak dicapai dalam masa liburan. Target yang dimaksud tidak mesti harus muluk-muluk. Akan tetapi target kegiatan yang dirasa mampu untuk dilakukan. Setelah penetapan target barulah disusun jadwal kegiatan harian yang bisa membantu dalam realisasinya.
Sangat dianjurkan dalam Menyusun jadwal kegiatan liburan haruslah mendahulukan pekerjaan-pekerjaan rumah dalam hal membantu kedua orang tua. Seperti membantu membersihkan rumah, mencuci, menyeterika baju hingga mencoba membantu meringankan tugas orang tua dalam mencari nafkah. Berawal dari kegiatan rumahan inilah seraong santri akan terbina kepekaan sosialnya dan kecerdasan emosionalnya.
Ketiga, tambah wawasan di saat liburan. Masa liburan hakikatnya adalah waktu berharga dalam melejitkan potensi diri. Karena di waktu liburan inilah seorang santri bisa secara leluasa menambah wawasannya. Bentuk penambahan wawasan sangatlah banyak dan beragam. Semua bisa disesuaikan dengan apa yang menjadi minat dan bakat.
Di antara bentuk menambah wawasan adalah dengan membaca buku. Sudah semestinya kehidupan santri tidak boleh jauh dari buku atau kitab. Dalam hal ini setiap santri haruslah menjadwalkan kegiatan membaca. Bacaan yang harus diutamakan adalah al Quran al Karim, hadits-hadits Nabi Muhammad ﷺ, dan kitab-kitab para ulama ahlus sunnah wal jama’ah. Setelah itu diperbolehkan untuk mencoba berpetualang ke kitab-kitab lain sesuai dengan kemampuan akademik yang dimiliki tentunya.
Dalam kegiatan membaca ini tidak harus dijadwalkan selama berjam-jam. Bisa juga dijadwalkan dalam hitungan menit sesuai kemampuan bacaannya. Hal terpenting dari kegiatan membaca ini adalah keberlangsungan secara terus menerus walaupun hanya sebentar.
Bentuk penambahan wawasan lainnya adalah dengan berdialog dan berdiskusi dengan anggota keluarga atau jika memungkinkan adalah dengan berkunjung kepada kyai atau ustadz. Dengan berdialog dan diskusi ini, seorang santri akan terbuka wawasannya dan bahkan dalam suatu kesempatan mendapatkan Kesimpulan ilmu yang rumit namun mudah difahami. Inilah “ghonimah” bagi seorang santri ketika mendapatkan kefahaman dari ilmu yang sebelumnya belum dimengerti dengan baik.
Bentuk lain dari kegiatan menambah wawasan adalah bereksplorasi atau berpetualang ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Dalam bentuk ini tentunya seorang santri harus mempersiapkan dana dan perbekalan yang cukup. Kegiatan ini bisa dikategorikan dalam rihlah ilmiyyah. Tujuannya adalah mengambil hikmah dan ibroh dari peristiwa, perjalanan dan pengalaman yang dialami.
Hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah menentukan obyek pengamatan yang hendak diketahui. Tanpa target ataupaun obyek pengetahuan yang ditentukan membuat perjalanan eksplorasi ini akan sia-sia.
Demikianlah tiga tips dalam mengisi liburan bagi para santri. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita keberkahan umur dan waktu serta terbimbing untuk selalu istiqomah menjaga ketaatan kepada-Nya di setiap waktu dan tempat. Semoga liburan para santri bernilai ibadah dan mendapatkan ridho Ar Rahman. Aamiin.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories