Makna Hidup

9 minutes reading
Thursday, 23 Feb 2023 14:39 0 734 admin

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله الحمد لله رب العالمين خلق الخلق لعبادته وأمر بتوحيده وطاعته

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أكمل الخلق عبودية لله وأعظمهم

دعا إلى الله وجاهد في سبيله حق جهاده

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

أيها الناس اتقوا الله وتفكروا لماذا خلقتم وبماذا أمرتم، فقد قال الله تعالى

يٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, kami pesankan kepada kepada diri kami khususnya dan kepada jamaah pada umumnya marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, mari kita pikirkan untuk apa kita diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala di dunia ini, untuk apa kita hidup di dunia ini? Kita diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(56) Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (57) {QS. Ad Dzariyat: 56-57}

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” {QS. Al Baqarah: 21}

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” {QS. Al Bayyinah: 5}

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, ibadah adalah suatu nama yang mencakup segala yang membuat Allah suka dan ridha, baik perkataan maupun perbuatan yang dzahir maupun yang batin, yang tampak maupun tidak tampak.

Ibadah mencakup perbuatan badan maupun perbuatan hati, bahkan adat pun dapat bernilai ibadah bila disertai dengan niat yang shalih. Tidur yang merupakan kebiasaan manusia bisa bernilai ibadah jika dilakukan oleh orang yang berpuasa demi menjaga puasanya agar tidak rusak. Orang yang tidur di siang hari dengan niat agar di malam harinya tidak berat untuk qiyamul lail maka tidurnya itu juga bernilai ibadah.

Seorang suami yang melakukan hubungan suami-istri dengan tujuan agar terhindar dari perbuatan keji atau zina maka hubungannya itu bernilai ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

وفي بطء أحدكم صدقة قالوا يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال أرأيتم لو وضعتها في حرام أكان عليه وزر؟ فكذالك إذا وضعتها في حلال كان له أجر

Artinya: “Di dalam masalah kemaluan kalian itu ada sedekah, para sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah seseorang yang memenuhi keinginan syahwatnya ada pahalanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bagaimana pendapatmu sekiranya dia meletakkan kemaluannya pada perbuatan yang haram, apakah ia mendapat dosa? Begitu pula jika ia meletakkannya pada perbuatan yang halal maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Bahkan dalam sebuah hadits shahih disebutkan; Jika ada seorang suami yang memberikan uang belanja kepada istrinya maka itu bernilai ibadah. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Muslim bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن ما أنفقت إلى عيالك صدقة

Artinya: “Sesungguhnya uang belanja yang kamu berikan kepada keluargamu adalah sedekah.

Imam Ahmad menyebutkan sebuah hadits dari Miqdad bin Ma’dikariba dari Nabi shallallahualaihi wasallam bersabda:

ما أطعمت نفسك فهو لك صدقة

Artinya: “Apa yang engkau berikan untuk memberi makan dirimu maka itu bernilai sedekah untukmu.

Imam Muslim dalam hadis shahihnya dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما من مسلم يغرس غرسا إلا كان ما أكل منه صدقة وما سرق منه له صدقة وما أكل السبع منه فهو له صدقة ولا يحصده أحد فهو له صدقة

Artinya: “Jika ada seseorang yang menanam tanaman lalu hasilnya itu ia makan maka itu termasuk sedekah, jika buahnya dicuri orang maka itu adalah sedekah baginya,  jika tanamannya dimakan binatang maka yang dimakan itu adalah sedekah baginya, jika tidak bisa dipanen maka itu juga sedekah baginya.”

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, ibadah dibagi menjadi dua: Ibadah yang wajib dan ibadah yang sunnah.

Ibadah yang wajib adalah ibadah yang kita lakukan berulang-ulang, seperti yang biasa kita lakukan berulang-ulang sehari semalam lima kali yaitu shalat lima waktu maka itu adalah ibadah wajib. Seperti juga yang kita kerjakan berulang-ulang setiap pekan sekali seperti shalat Jum’at maka shalat Jum’at yang kita lakukan ini adalah ibadah wajib. Yang kita lakukan berulang-ulang setiap setahun sekali seperti puasa pada bulan Ramadhan maka puasa pada bulan Ramadhan adalah ibadah wajib. Yang kita lakukan berulang-ulang setiap satu tahun sekali seperti ibadah zakat mal maka zakat mal itu adalah ibadah wajib bagi yang hartanya sudah sampai nishab dan haul. Juga apa yang kita lakukan seumur hidup sekali seperti ibadah haji bagi yang mampu maka ibadah haji itu hukumnya wajib.

Adapun ibadah sunnah maka tidak ada batasan waktu, seperti mengerjakan shalat-shalat sunnah, sedekah-sedekah sunnah dan puasa-puasa sunnah maka ibadah itu adalah ibadah sunnah selama dikerjakan di luar waktu-waktu terlarang untuk mengerjakannya. Termasuk ibadah sunnah juga adalah ibadah yang dikerjakan setiap waktu seperti dzikir, baik dzikir dengan hatinya maupun dzikir dengan lisannya maka itupun termasuk ibadah yang utama. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا   وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.(41) Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (42) {QS. Al Ahzab: 41-42}

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” {QS. Al Jumu’ah: 10}

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ  ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

 Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring. … (191) {QS. Ali Imran: 190-191}

Allah subhanahu wata’ala juga memperingatkan:

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” {QS. Al Baqarah: 152}

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, dari ayat-ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa umur orang beriman tidak boleh barang sedetikpun digunakan kecuali untuk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala, baik ibadah qouliyah (perkataan) maupun ibadah fi’liyah (perbuatan). Dzikir bisa dikerjakan kapan saja, bisa malam, bisa siang, bisa ketika berdiri, ketika duduk, ketika berbaring, bahkan ketika menyangkul di sawah pun dzikir bisa dikerjakan. Maka jangan sampai sedetikpun yang terlewatkan dari berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala.

Barang siapa yang membuang-buang waktu, tidak menggunakan segala kesempatan yang Allah subhanahu wata’ala berikan untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah maka ia adalah orang yang merugi bahkan sampai hari kiamat kelak.

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, ibadah tidak bisa disebut sebagai sebuah ibadah, tidak ada nilai ibadahnya sama sekali kecuali jika ibadahnya benar ditujukan hanya untuk Allah subhanahu wata’ala, tidak dicampuri dengan riya’, sum’ah dan sejenisnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ  أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ

Artinya: “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.(2) Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).(3) {QS. Az Zumar: 2-3}

Demikian pula  dalam ayat sebelumnya disebutkan

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” {QS. Al Bayyinah: 5}

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ   ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ   ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ   وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ

Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (4) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (5) orang-orang yang berbuat riya, (6) dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (7)” {Al Mau’un: 4-8}

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” {QS. Al Kahfi: 110}

Firman Allah subhanahu wata’ala ini juga dikuatkan dengan sebuah hadits qudsy dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Saya tidak butuh sekutu, oleh karena itu barang siapa yang melakukan perbuatan yang disekutukan orang lain bersama AkuAku, maka aku buang orang itu dengan kemusyrikannya.” Di dalam hadits ini ada pelajaran yang bisa kita ambil bahwa syarat sahnya ibadah ada dua; yaitu ikhlas karena Allah dan mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

 Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan sebuah amalan (ibadah) yang tidak berdasarkan petunjuk kami maka amalan itu tertolak.

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, sesungguhnya ibadah kepada Allah adalah awal kewajiban kita kepada Allah dan hak Allah yang harus kita kerjakan dan kita dahulukan atas hak-hak yang lain. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa… ” {QS. An Nisa’: 36}

Ayat-ayat yang semisal ini sangatlah banyak, bahkan ada sebuah hadits dari sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يا معاذ أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله قلت الله ورسوله أعلم  قال فإن حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك بالله شيئا

Artinya: “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba dan apa hak hamba dari Allah subhanahu wata’ala? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, Rasulullah lalu bersabda: Sesungguhnya gak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, sedangkan hak hamba dari Allah adalah Allah tidak akan menyiksa hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, ibadah kepada Allah adalah kewajiban bagi setiap manusia yang berakal, yaitu yang sudah memasuki usia mukallaf. Ibadah itu dikerjakannya hingga meninggal dunia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Artinya: “dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” {QS. Al Hijr: 99}

Nabi Isa ‘alaihissalam berkata:

وَأَوْصَٰنِى بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

Artinya: “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” {QS. Maryam: 31}

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, kemudian barang siapa tidak beribadah kepada Allah, tidak menjadi hamba Allah maka ia akan menjadi hamba setan, pemuja setan. Orang yang tidak mau beribadah kepada Allah bisa jadi ia menjadi hamba hawa nafsunya. Orang yang tidak mau beribadah kepada Allah bisa jadi ia menjadi hamba dunia. Barang siapa menyembah dunia maka ia akan menjadi hambanya dunia, barang siapa menyembah hawa nafsunya maka ia menjadi hamba nafsunya, menjadi budak nafsunya, barang siapa meminta kepada setan berarti ia beribadah dan menyembah kepada setan, menjadi pengabdi setan.

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, kalau saja kita dalam setiap shalat bahkan setiap saat mengucapkan

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” {QS. Al Fatihah: 4}

وَأَوْفُوا۟ بِعَهْدِىٓ أُوفِ بِعَهْدِكُمْ

Artinya: “… dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu;.. ” {QS. Al Baqarah: 40}

Allah memerintahkan kepada kita untuk menepati janji kita, yaitu setelah kita mengucapkan “iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in” Maka kita harus benar-benar beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين

 

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر  أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد

Ma’asyiral muslimin sidang jamaah jum’ah rahimakumullah, pada kesempatan khutbah kedua ini kami ingatkan kepada diri kami sendiri khususnya dan kepada jamaah semuanya umumnya marilah kita senantiasa siap menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, demikianlah khutbah Jumat pada siang hari ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi seluruh jamaah pada umumnya. Pada akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala.

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

اللهم اغفر لنا ولوالدينا ولمن له حق علينا

اللهم اغفر لنا ولآبائنا ولأمهاتنا ولمشايخنا ولمن له حق علينا يا أرحم الراحمين

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

سُبْحَٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين  وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينََ

Khatib: KH. Sartono Munadi

Editor: Adib R

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories