Buah Takwa

11 minutes reading
Thursday, 18 Nov 2021 03:10 0 346 admin

 

KHUTBAH PERTAMA

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره  ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهد الله ملا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللهم صل على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

أيها المؤمنون أيها المؤمنات رحمكم الله ، أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون حيث قال عز وجل في كتابه الكريم (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ، بسم الله الرحمن الرحيم)

يأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

وقال : يأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

واعلموا فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار . أما بعد

Ayyuhal hadirun rahimakumullah, jamaah jum’ah yang berbahagia

Marilah pada kesempatan yang baik ini kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas seluruh nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua, sehingga sampai pada siang ini kita bisa melaksanakan dan menghadiri kewajiban-kewajiban kita sebagai orang yang beriman, di antaranya yaitu untuk melaksanakan shalat jum’at dengan berjamaah insyaAllah.

Semua ini merupakan nikmat yang besar yang Allah berikan kepada hambaNya, termasuk nikmat sehat dan nikmat kesempatan yang dengan dua nikmat tersebut seorang hamba bisa melaksanakan kewajiban-kewajibannya, oleh karena itu kita jangan bosan-bosan untuk selalu bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua.

Bahkan Allah berjanji jika hamba pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan maka Allah akan menambah nikmat-nikmat lain yang belum Allah berikan, cara untuk menarik nikmat-nikmat Allah yang belum diberikan kepada kita adalah dengan cara bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua, sehingga nanti Allah akan menambah nikmat-nikmat yang lain yang belum Allah berikan.

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, yang kedua shalawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita, ke hadirat baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kepada para pengikutnya yang senantiasa mengikuti ajaran-ajarannya hingga hari kiamat.

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, di sini kami selaku khatib tidak lupa untuk selalu wasiat terlebih dahulu untuk diri saya sendiri khususnya dan kepada hadirin jamaah jum’ah pada umumnya; marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu selalu menjalankan perintah-perintahNya dan kita jauhi semua laranganNya. insyaAllah dengan berbekal takwa yang sebenar-benarnya kebahagiaan hidup baik di dunia sampai nanti di akhirat akan bisa kita raih.

Hadirin jamaah jum’at rahimakumullah, uraian khutbah di kesempatan yang baik ini kami beri judul “Buah Takwa”

Perlu kita ketahui bersama-sama bahwa takwa memiliki buah dalam kehidupan ini, manakala seseorang betul-betul bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala maka Allah akan memberikan hasil, Allah akan memberikan buah dari ketakwaannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Ini sudah menjadi janji Allah subhanahu wata’ala, siapa saja yang hidup di dunia ini kemudian hamba tersebut betul-betul bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sungguh-sungguh dan benar dalam ketakwaannya kepada Allah maka Allah pasti memberikan buah, memberikan hasil ketika dia hidup di dunia ini apalagi nanti kehidupan di akhirat.

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, oleh karena itu marilah kita selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa, karena Allah subhanahu wata’ala sudah berjanji di dalam firmanNya bahwa Allah akan memberikan beberapa macam buah bagi orang yang bertakwa, Allah akan memberikan beberapa hasil yang bisa langsung dirasakan ketika hidup di dunia ini.

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, kita bisa mengambil salah satu contoh dari firman Allah subhanahu wata’ala yaitu yang tertera dalam surah At-Talaq : 2-5

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, di sana Allah berjanji

ومن يتق الله يجعل له مخرجا

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah pasti Allah jadikan untuknya jalan keluar atas apa saja yang dihadapinya

ويرزقه من حيث لا يحتسب

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah akan Allah beri rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka

ومن يتق الله يجعل له من أمره يسرا

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah akan Allah jadikan untuknya kemudahan urusan-urusannya

ومن يتق الله يكفر عنه سيئاته ويعظم له أجرا

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah akan Allah tutupi kesulitan-kesulitan (bahaya-bahaya) serta Allah akan melipatgandakan pahala dari amal-amal yang telah mereka kerjakan

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, inilah janji Allah subhanahu wata’ala yang Allah abadikan dalam Al Quran, ketika kita sudah mengimani dan yakin betul bahwa janji Allah pasti benar, lalu ternyata ada janji-janji Allah yang belum bisa kita dapatkan dan rasakan maka yang salah bukan janji Allah, yang salah bukan Allah, tapi yang salah adalah kita sendiri karena kita belum memenuhi syarat untuk mendapatkan apa yang telah Allah janjikan kepada kita.

Oleh Karena itu kalimat takwa selalu digembar-gemborkan, selalu diawalkan oleh seluruh khatib dan mubaligh dalam memberikan ceramahnya, yaitu dengan mengingatkan يأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته , orang-orang beriman selalu diseru untuk takwa kepada Allah dengan حق تقاته dengan “takwa yang sebenar-benarnya.”

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, ternyata janji Allah yang tertera dalam surah At Talaq jika kita renungkan, kita dalami secara mendalam, maka tiga buah tersebut akan menjadi sumber bagi kehidupan manusia di dunia ini.

Coba kita bayangkan firman Allah ومن يتق الله يجعل له مخرجا “Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar.” tidak ada manusia yang hidup di dunia ini yang tidak memiliki problem, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah, hidup ini penuh dengan problem, hidup ini penuh dengan masalah, hidup ini penuh dengan rintangan-rintangan dan lain sebagainya. Janji yang Allah berikan kepada orang yang bertakwa يجعل له مخرجا “Allah pasti akan memberikan kepada hamba yang bertakwa tersebut jalan keluar”, seluruh apa yang dihadapi akan diberi solusi, di beri jalan keluar, itu merupakan janji dari Allah subhanahu wata’ala.

Setelah diberi solusi untuk segala urusan kehidupannya, lalu Allah memberikan janji yang kedua ويرزقه من حيث لا يحتسب “Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Kalau kita mau melihat beberapa keterangan dari para ahli tafsir, ternyata kata ويرزقه من حيث لا يحتسب sangat menakjubkan masyaAllah, dalam tafsiran yang lain para mufassir memberikan keterangan maksud dari ayat tersebut adalah rezeki dari arah yang belum pernah terbersit di dalam hati orang yang bertakwa, belum pernah berangan-angan kalau akan mendapatkan rezeki yang seperti itu, bahkan tidak pernah masuk di dalam harapan-harapannya.

Sehingga hamba yang mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka itu justru kadang-kadang membayangkan kenapa Allah memberikan kelapangan rezeki sampai seperti itu kepada dirinya? Sementara orang lain yang dengan bekerja susah payah, banting tulang, peras keringat, ternyata rezekinya hanya seperti itu, tidak sebagaimana yang Allah berikan kepada dirinya.

Karena itulah orang-orang yang bertakwa ketika diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka oleh Allah subhanahu wata’ala seharusnya berhusnudzon kepada Allah; mudah-mudahan rezeki yang Allah berikan kepada dirinya itu adalah karena ketakwaannya kepada Allah subhanahu wata’ala, karena itu merupakan janji dari Allah subhanahu wata’ala.

Kemudian yang ketiga يجعل له من أمره يسرا segala kesusahan, segala apa saja yang dihadapi selalu Allah mudahkan.

Hal yang paling membahagiakan seorang manusia adalah ketika dia hidup dengan menghadapi rumitnya persoalan kehidupan lalu Allah memberikan kemudahan-kemudahan untuk segala persoalan kehidupannya, tidak ada lagi yang sulit baginya. Ketika ada cobaan ini, ada fitnah ini, ada berbagai macam persoalan selalu diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wata’ala, ketahuilah itu merupakan janji dari Allah kepada orang-orang yang bertakwa.

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, kemudian kami juga mengingatkan kepada diri kami khususnya serta kepada hadirin jamaah jum’ah pada umumnya; itulah janji Allah kepada orang-orang yang betul-betul bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Orang yang betul-betul bertakwa akan diberi buah atau hasil sebagaimana yang tertera dalam surah At Talaq ayat tersebut di atas.

Mari kita mencoba bermuhasabah, kita evaluasi diri kita, ketika kita sudah menyatakan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala lalu ternyata kita belum mendapatkan apa yang Allah janjikan, atau mungkin kita sudah mendapatkannya tapi belum seberapa, belum banyak, bisa jadi ketakwaan kita kepada Allah belum maksimal, belum betul-betul حق تقاته , mari kita sejenak melihat perkatan salafus shalih dalam memberikan definisi takwa.

Pertama : Ali bin Abi Thalib ra mengatakan bahwa takwa adalah

الخوف من الجليل ، والعمل بالتنزيل ، والقناعة بالقليل ، والإستعداد ليوم الرحيل

“Takwa adalah takut kepada Allah subhanahu wata’ala, beramal dengan Al Quran, ridha dengan (pemberian Allah) yang sedikit, dan bersiap-siap untuk menghadapi kematian”

Ini adalah definisi yang sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berikan tentang takwa, yaitu الخوف من الجليل “Takut kepada Allah subhanahu wata’ala” Kita renungkan diri kita masing-masing sudah sampai di mana khosyah kita kepada Allah subhanahu wata’ala? Rasa takut kita kepada Allah subhanahu wata’ala sudah sampai seperti apa sampai hari ini? Kalau rasa takut kita kepada Allah masih ringan atau masih sedikit tentu saja Allah juga sedikit dalam memberikan janjiNya kepada kita.

الخوف من الجليل yaitu takut kepada Allah subhanahu wata’ala, takut kalau tidak melaksanakan perintah-perintahNya, takut kalau melanggar larangan-larangan Allah subhanahu wata’ala, kalau rasa takut itu senantiasa menempel di dalam hati kita, senantiasa terpatri di dalam sanubari kita, sehingga di mana saja kita berada, entah ada orang banyak atau sendirian, di tempat yang ramai atau di tempat yang sepi tetap ada rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala maka itulah definisi yang pertama dari definisi takwa yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Yang kedua العمل بالتنزيل “Beramal dengan Al Quran”, bagaimana kita dengan Al Quran? Sudahkah kita hidup di dunia ini dalam sehari semalam betul-betul sudah terkendali dengan Al Quran? ataukah justru sebaliknya, sebagian dari aktivitas kehidupan kita ini justru malah bertentangan dengan Al Quran? Naudzubillah min dzalik.

Bagaimana mungkin Allah akan memberikan janjinya kalau Al Quran saja tidak diamalkan dalam kehidupan? Oleh karena itulah untuk meraih takwa yang sebenar-benarnya, kita harus mewujudkan dan membuktikan dengan mengamalkan Al Quran dalam kehidupan kita, insyaAllah kalau kita mau bekerja keras kemudian mau mengatur kehidupan kita dengan Al Quran, apa yang telah Allah janjikan akan Allah berikan kepada kita.

Kemudian yang ketiga والقناعة بالقليل yaitu punya perasaan rela dan legowo ketika diberi oleh Allah subhanahu wata’ala hanya sedikit. Tidak mengeluh dengan berbagai protes kepada Allah subhanahu wata’ala; “Kenapa tidak diberi yang banyak?” “Kenapa tidak diberi yang melimpah?” tapi orang yang bertawa adalah apapun yang Allah berikan kepada dirinya, ia akan selalu berhusnudzan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Kemudian yang keempat والإستعداد ليوم الرحيل adalah selalu bersiap-siap untuk menghadapi hari setelah kematian. Itulah di antara definisi takwa yang diberikan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Kemudian definisi takwa yang kedua adalah sebagaiana yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang takwa, beliau menjawab:

هل أخدت طريقا ذا شوك ؟ فقال : نعم  ، قال : فكيف صنعت ؟ قال : إذا رأيت الشوك عزلت عنه  أو جاوزته أو قصرت عنه قال : ذاك التقوى

(Ini jawabannya orang alim, ketika ditanya malah balik menanya) “Apakah kamu pernah berjalan di jalan yang penuh dengan duri?” “ya” jawab si penanya, lalu Abu Hurairah kembali bertanya; “Jika begitu apa yang kamu kerjakan?” penanya lalu menjawab; “Kalau saya melihat duri maka saya akan berusaha untuk menghindari duri-duri itu, atau saya akan melangkahinya, atau saya akan menyingkirkannya agar tidak mengenai saya.” Lalu Abu Hurairah berkata: “Itulah Takwa”

Itulah keterangan dari Abu Hurairah ketika menjelaskan tentang takwa. Beliau memberi perumpamaan bahwa hidup ini sebagaimana jalan yang berduri, kalau tidak hati-hati akan terkena duri, kalau terkena duri tentu rasanya sakit. Lalu ada yang berkeluh kesah, sambat, susah payah, teriak-teriak, minta segera diobatkan dan sebagainya. Itulah perumpamaan kehidupan di duna ini, seperti berjalan di atas duri yang sangat membahayakan. Maknanya kita hidup di dunia ini ada halal dan haram, ada perintah dan larangan, ada makruh, mubah dan lain sebagainya.

Bagaimana sikap kita terhadap perintah-perintah Allah? bagaimana sikap kita terhadap larangan-laranganNya? bagaimana sikap kita terhadap perkara-perkara yang makruh? Bagaimana sikap kita terhadap yang sunnah dan lain sebagainya? Kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini, kehidupan kita sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah subhanahu wata’ala, tinggal bagaimana kita bersikap sebagai manusia,  apakah berani menerjang ataukah berhati-hati, jangan sampai hidup di dunia yang hanya sekali ini malah kita gunakan untuk melanggar larangan-larangan Allah. Itulah perumpamaan takwa yang diberikan oleh sahabat Abu Hurairah ketika ditanya tentang takwa.

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, mungkin definisi takwa tidak akan kami jelaskan secara rinci satu persatu, karena banyak sekali dari para salafus shalih yang memberikan definisi takwa, saya yakin dengan dua definisi takwa tadi sudah cukup  untuk menjadi bahan pertimbangan bagi kita; bagaimanakah keadaan ketakwaan kita kepada Allah sampai hari ini? Bagaimana perasaan takut kita kepada Allah? Bagaimana Al Quran dalam kehidupan kita? Sudahkah kita jalankan? Sudahkah kita amalkan? dan sebagainya.

Orang yang betul-betul bertakwa dan mempersiapkan diri untuk hari setelah kematian tentu semua aktivitas kehidupannya hanya untuk menghadapi hari setelah meninggalkan dunia ini, ia disibukkan, waktunya dihabiskan, difokuskan dengan kegiatan-kegiatan yang hanya untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk hari setelah kematian. Itulah realita dari takwa, orang yang takwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله إن الله هو الغفور الرحيم

 

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وعلى آله وصحبه أجمعين

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللهم صل على محمد وعلى آله وصحبه أحمعين ، أما بعد

Ayyuhal hadirun jamaah jum’ah rahimakumullah, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada para sahabat-sahabatnya dan umumnya kepada seluruh umat islam dengan pesan yang singkat اتق الله حيث ما كنت , hadits yang pendek namun kalau diterjemahkan maka maksud dari hadits tersebut sangat banyak sekali hingga bisa berlembar lembar, bertakwalah dengan tidak mengenal tepat, tidak mengenal waktu, tidak mengenal saat, bawalah takwa ke mana-mana, bawalah Al Quran kemana-mana, bawalah perasaan takut kepada Allah kemana-mana!

Kemudian mari selalu kita fokuskan aktivitas kehidupan kita untuk menghadapi hari setelah kematian karena itulah ciri-ciri orang yang bertakwa kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya. Oleh karena itulah hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah mari kita interospesi diri kita masing-masing, kita lihat sampai di mana, bagaimana ketakwaan kita hingga hari ini, sampai detik ini.

Mudah mudahan kita diberi kemampuan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menjadi hamba Allah yang betul-betul bertakwa dengan takwa yang حق تقاته , bukan lisannya ngomong takwa tapi amal perbuatannya malah menentang Al Quran, lisannya berkata taqwa tapi larangan Allah malah diterjang terus. Orang yang bertakwa adalah yang selalu menjaga hukum-hukum Allah, selalu menjaga tuntunan-tuntunanNya di mana saja ia berada.

Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah, inilah khutbah yang kami sampaikan, mudah-mudahan memberi manfaat kepada diri saya sendiri khususnya dan kepada hadirin jamaah jum’ah pada umumnya. Marilah kita akhiri khutbah di siang ini dengan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

ربنا ظلمنا أنفسنا فإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا لاتؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا

ربنا ولا تحمل علينا اسرا كما حملته على الذين من قبلنا

ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفرلنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين

اللهم اعز الإسلام والمسلمين وخذل من خذل الإسلام والمسلمين

اللهم انصر المجاهدين في كل مكان وفي كل زمان على عدوك وعدوهم

اللهم وحد صفوفهم واجمع قلوبهم وأصلح ذات بينهم وعجل نصرهم يا قوي يا عزيز

اللهم أهلك الكفر والمبتدعة والمشركين والظالمين والمنافقين أعدائك أعداء الدين

اللهم مزق جمعهم وزلزل أقدامهم  وأنزل بهم الرعب وعجل بأسهم وعجل بأسهم وعجل بأسهم يا قهار يا جبار

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

سبحان الله رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

 

 

Khatib : Ustadz Asnaim

Editor : Adib

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories